Kita sebenarnya tak perlu heran melihat tingkah mahasiswa, yang oleh sebagian pihak dianggap membuat onar, atau dalam bahasa kepolisian mengganggu ketertiban umum.
Jika melihat sejarah model-model perlawanan semacam ini sebenarnya bukan barang baru.
Beberapa tokoh bahkan memuji gerakan ini sebagai gerakan ideal yang patut dipertimbangkan andaikata mereka tidak mendapat bagian dalam ruang publik, andaikata mereka terus menerus direpresi, dipaksa mundur ke dalam kampus dan disuruh bungkam di antara diktat dan ruang-ruang kuliah.
Memang siapa pun tidak akan setuju pada gerakan destruktif dan merusak. Namun perlu dilihat juga hal-hal apa yang kiranya melatarbelakangi aksi-aksi semacam ini.
Apa yang kemudian dimaksudkan sebagai penyumbatan ruang publik membuat kelas yang tidak terwadahi cenderung menggunakan metode-metode aksi tertentu yang diupayakan mampu mengambil perhatian publik luas.
Soal kemudian gerakan ini tidak mendapatkan simpati dari masyarakat banyak, itu merupakan resiko perjuangan. Mahasiswa pun semestinya pandai mengatur siasat gerakan, termasuk dalam mengantisipasi aksi represi aparat yang semakin lama semakin canggih.
Bisa saja, dengan cara mendestruksi substansi gerakan yang kemudian memperhadapkan mahasiswa dengan masyarakat akar rumput adalah salah satu implementasi kecanggihan aparat ini.
Dalam gerakan apa pun, selama masih memperjuangkan idealisme, mahasiswa tetap mesti diberi apresiasi. Meskipun tanpa dibayar, mereka rela berpanas-panas dan berdarah-darah. Andaikan kita masih tetap belum mengerti apa yang mereka tuntut, mengapa kita tidak berhenti dan sejenak mendengarkan luapan intelektualitas ini?