Mengapa Mesti Anarkis?

Di berbagai media massa seperti televisi maupun surat kabar, akhir-akhir ini sering kita melihat orang-orang yang dengan cara anarkis “meminta” keadilan, perubahan, atau untuk tujuan yang sering tidak dapat dimengerti. Perbuatan “meminta,” memang tidak selalu salah, apabila yang diminta adalah sesuatu yang menjadi hak seseorang atau hak diri kita sendiri. Tetapi, akan menjadi hina bila dilakukan dengan cara kekerasan. Continue reading

BANGSA HIRUK PIKUK

Di dalam pekan ini, telah terjadi anarkisme dalam arti yang sesungguhnya yang memuncak pada hari Rabu, 14 April, di Koja, wilayah Tanjung Priok, Jakarta Utara. Massa yang marah dan kecewa, karena merasa tak diperlakukan secara manusiawi dan adil oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) bersama aparat kepolisian yang bertindak represif atas nama pemerintah, mengamuk tanpa kendali.

Mungkin paling tepat bila kita daulat bangsa kita sebagai “bangsa hiruk-pikuk”, seperti yang diopinikan setiap detik oleh media. Ada saja masalah yang silih berganti dihiruk-pikuki, kemudian setelah itu, hilang! Ganti topik hiruk-pikuk lain, sesudah itu hilang.

Padahal rakyat kecil yang melarat dan masih dalam tahap kemiskinan, tidak bisa makan semua hiruk-pikuk yang hanya dipahami golongan menengah hingga golongan atas.

Rakyat golongan bawah, sekalipun berpendidikan, paling banter hanya bisa saling debat, mana yang benar, misalnya antara tudingan-tudingan dilancarkan Para Oknum petinggi di Jajaran Kepolisian,…

Kenapa kita tidak mengikuti jejak bangsa lain yang juga pernah dijajah, menderita, miskin, kemudian bangkit menjadi bangsa modern yang “superpower” seperti bangsa Jepang contohnya? Kalah hancur di bom atom dalam Perang Dunia II oleh sekutu, tetapi setelah itu mereka bangkit dengan etos kerja mereka yang luarbiasa.

Ataukah kita memang bukan bangsa pekerja, tetapi hanya sekadar bangsa hiruk-pikuk dengan ganti-ganti topik, yang umumnya hanya berada di ranah politik, rebut-merebut jabatan, saling “character assassination”, penghancuran karakter, penghujatan terhadap institusi-institusi hukum secara “pars prototo”, terutama saat ini penghujatan terhadap Kepolisian dan Kejaksaan.

Padahal rakyat banyak butuh polisi yang baik, yang mampu melindungi mereka, menjaga ketertiban dan menegakkan hukum.

Semuanya itu mustahil terwujud, jika polisi setiap harinya dihujat dalam hiruk-pikuk ini. Yang mestinya dilakukan, penguatan institusi-institusi hukum seperti kepolisian, kejaksaan dan pengadilan, tidak secara kebablasan, melainkan secara sistematik dan bertahap, dengan tujuan dan tindakan realistis: Membersihkan sosok-sosok sapu kotor, dan menggantinya dengan sapu bersih.