MENGAWAL GRAND FINAL PANSUS CENTURY

Written by admin on J March 2010

Perhatian ratusan juta rakyat Indonesia, dua hari terakhir, tercurah ke gedung parlemen di Senayan, Jakarta. Di tempat itu, legislator mengikuti sidang paripurna membahas tentang kesimpulan akhir Panitia Khusus (Pansus) Angket Bank Century.

Sidang paripurna yang pada hari pertama tidak berjalan sempurna, dan berakhir tanpa makna, kemudian dilanjutkan Rabu 3 Maret kemarin, telah memperlihatkan hasilnya. Tercatatlah sejarah baru dalam pelaksanaan demokrasi. Kerja keras Pansus selama kurang lebih tiga bulan terakhir telah mendekati titik terang. Target politik yang akan dituju juga semakin dekat.

Sebenarnya, yang lebih penting dan strategis dari sikap seluruh anggota pansus, bukan pada garis kebijakan partainya, melainkan pada niat awal apakah mereka benar-benar bekerja untuk menuntaskan mega skandal Rp 6,7 triliun itu, atau sekadar berkoar-koar dan numpang tenar di seantero Nusantara melalui berbagai saluran media massa.

Bila kita menganalisis masa lalu , bila kali ini Pansus berhasil, maka sejarah akan mencatatnya sebagai keberhasilan langka. Sudah banyak pansus terbentuk, tapi senantiasa menemui jalan buntu, hingga akhirnya tidak bergaung lagi akibat dalam perjalanannya, anggota pansus banyak yang “masuk angin”.

Kerja pansus Century tidak hanya menunjuk hidung siapa yang terlibat, menyebutkan langsung namanya secara terang-benderang, atau tawar-menawar kepentingan di balik puluhan kali sidang-sidang pansus, melainkan bagaimana menjabarkan dan membukakan mata seluruh rakyat Indonesia, betapa rentannya kejahatan perbankan terjadi di Indonesia.

Begitu mudahnya rekening dan uang triliunan rupiah nasabah di seluruh penjuru negeri digerayangi. Nasabah seperti tidak berdaya. Perbuatan itu tentu bukanlah pekerjaan orang biasa, melainkan kalangan profesional dan berpengaruh di lingkungannya.

Fenomena “masuk angin” yang  diwaspadai sejak awal terbentuknya Pansus  sampai pada pengambilan kesimpulan berhail dihindari meskipun banyak pro dan kontra yang muncul. Namun, saya pribadi mengacungkan jempol kepada anggota pansus, sebab atas kegigihannya mereka telah memperlihatkan sebuah prestasi besar membongkar sebuah skandal perbankan, kendati usia kerja keparlemenan mereka masih sangat belia.

Dalam Pidatonya yang saya kutip dari Vivanews.com, Presiden SBY menanggapi hasil Sidang Paripura DPR tentang Angket Kasus Bank Century, kebijakan yang diambil pada saat itu dalam kondisi yang sulit ditengah krisis ekonomi global. Pengambilan keputusan di masa normal dan krisis tentu sangat berbeda. Pada saat situasi sedang krisis, mengambil keputusan pasti sulit karena informasinya bisa tidak lengkap dan pilihan yang tersedia tidak memadai. “Tapi, itu (keputusan) harus diambil untuk mencegah hal yang lebih buruk,” kata Presiden.

Presiden menjelaskan, indikator adanya krisis perekonomian terlihat dari beberapa indikator, seperti anjloknya harga saham, rupiah mengalami depresiasi, dan cadangan devisa yang menurun.

Dalam pidatonya SBY justru memuji kemampuan, kredibilitas, dan integritas Boediono dan Sri Mulyani  yang malam itu tampil penuh senyum mendengarkan pidato.

Usai pidato, beberapa menteri Kabinet Indonesia Bersatu menghampiri Sri Mulyani, menyalaminya dan memberikan ucapan selamat.

Bagaimana dengan tanggapan sahabat semua?…