DIMANAKAH GERANGAN WAHAI KEHENINGAN?

Hampir setiap saat kita dikepung dan didera oleh kegaduhan, keributan, kerusuhan, kericuhan, dan gemuruh suara massa yang mengamuk. Kesadaran dan kebebasan individual seakan lenyap tertelan oleh derasnya arus kemarahan, kepanikan, kegamangan, dan kegundahan yang menggumpal dalam hati yang sudah diracuni rasa iri, dengki, benci, dan rasa saling membalas dendam.

Kita terus-menerus tergusur entah ke mana tanpa tujuan jelas yang seharusnya dapat menggerakkan dan mengarahkan langkah-langkah kita ke suatu masa depan yang lebih berkepastian.

Berbagai pilihan yang menjadi harapan kita akhirnya mengabur, kemudian jelma menjadi kabut kelam dan kemelut yang semakin melemaskan kepekaan hati kita untuk dapat menikmati sesuatu sebagai kebahagiaan dan bukan sekadar sebuah kesenangan atau kepuasan sementara.

Namun, di tengah suasana batin yang demikian, masih terkuak sisa-sisa rindu kita pada keheningan yang bermuatan damai sejati. Suara amukan alam dan suara manusia hadir silih berganti, beriringan, atau bersamaan. Ada letusan gunung berapi, ada luapan lumpur panas, ada gempa tektonik, ada deru gelombang, ada gemuruh banjir, tanah longsor, patahan gunung, dan ada tiupan angin yang membadai.

Amukan alam telah menimbulkan bencana yang semakin menyengsarakan para warga dan kelompok masyarakat yang sudah sejak lama menderita meski tetap tahan banting oleh semacam kebodohan sebagai kekuatan yang diberi nama kesabaran.

Amukan massa, entah massa rakyat, entah massa kepolisian, entah massa satuan polisi pamong praja (Satpol PP), yang saling berbenturan dalam perang tanding, berkesudahan dengan kekalahan bersama karena semua pihak yang menjadi debu karena saling bunuh atau menjadi arang karena saling menganiaya dan saling melukai dalam amukan yang sudah tidak terkendali oleh petunjuk akal sehat dan perintah kalbu yang bersih.

Betapa banyaknya korban manusia jatuh ke dalam jurang kesia-siaan di balik reruntuhan dan kehancuran harta benda karena ulah manusia sendiri. Kita masih sedikit beruntung atau belum kehilangan harapan sama sekali karena rasa rindu pada damai sejati masih menjadi sejenis bara api dalam sekam gairah hidup yang harus dikobarkan menjadi api dan spirit baru untuk bisa berubah.

Kita ingin berubah bukan sekadar berubah, melainkan berubah demi membangun diri kembali menjadi masyarakat dan bangsa yang berkedamaian sejati. Damai sejati bisa diraih melalui perwujudan nilai keadilan dalam seluruh bidang dan aspek kehidupan kita. Karena itu, kita harus dapat menciptakan keheningan.

Hanya di dalam keheningan, yaitu suasana yang bebas atau bahkan suasana yang steril dari segala jenis cemaran amukan buatan kita, kita dapat berpikir, berenung, bersikap, dan membangun ikhtiar yang benar dan baik.

9 thoughts on “DIMANAKAH GERANGAN WAHAI KEHENINGAN?

  1. Some time before, I really needed to buy a house for my business but I didn’t have enough money and could not order anything. Thank God my mate adviced to get the credit loans from trustworthy creditors. Hence, I acted that and used to be happy with my small business loan.

Comments are closed.