Dilematis Permainan Anak

Written by admin on J October 2010

Sikap orang tua yang kerap memanjakan anak dengan mainan, tanpa memperhatikan aspek keamanan, keselamatan dan kesehatan, bisa menjadi bumerang. Kasus anak-anak yang terancam buta akibat bermain pistol replika merupakan buktinya.

Berdasarkan catatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sudah 20 korban anak-anak yang mengalami luka, baik ringan maupun berat, gara-gara bermain tembak-tembakan dengan pistol mainan. Di Padang, misalnya, enam anak terpaksa mendapatkan perawatan di RSUPM Jamil karena terluka di bagian matanya. Kejadian serupa juga terjadi di Cengkareng, Jakarta.

Bermain sesungguhnya merupakan dunia anak yang dijamin Konvensi Hak Anak (KHA). Peter Adamson (Jalaluddin Rakhmat, 1991) mengatakan, bermain bukanlah kegiatan yang tidak berarti tapi sangat penting untuk pertumbuhan anak dan dapat membantu mengembangkan mental, sosial dan keterampilan fisik, termasuk berbicara dan berjalan.

Bermain dapat merangsang rasa ingin tahu, kecakapan, serta percaya diri seorang anak. Bermain juga merupakan landasan bagi anak untuk mampu melakukan pekerjaan sekolahnya, mempelajari beberapa keterampilan yang perlu untuk kehidupannya di kemudian hari.

Saat anak-anak berkumpul, bermain, bertukar pengalaman, mengembangkan daya kreasi dan imajinasi, belajar tentang kerja sama, toleransi, tanggung jawab, dan saling dukung antara satu dengan lainnya. Secara alamiah, proses itu akan membentuk semangat berorganisasi dan merefleksikan bakat kepemimpinan yang dimiliki anak-anak.

Sebaliknya, anak-anak yang tidak pernah bermain dengan teman-temannya atau dalam kelompok akan cenderung memperlihatkan hambatan perilaku setelah dewasa. Misalnya, tidak bisa melakukan sosialisasi di tempat pekerjaan, tidak sanggup mengoordinasikan tugas dan sulit meluaskan wawasan .

Dari penjelasan tersebut, tampak bahwa bermain bukanlah perkara sepele. Soalnya kemudian, masih ada orang tua yang over protective melarang anak-anak bermain karena khawatir anaknya hanya akan membuang waktu percuma.

Orang tua lebih memilih menjejali anak-anaknya dengan aneka kursus untuk mengejar prestasi akademik atau merasa lebih aman anaknya menonton TV di rumah daripada bermain dengan kawan-kawannya.

Orang tua juga tidak jarang kurang memahami bahwa anak-anak memiliki kemampuan menjadikan apa saja sebagai arena bermain. Karena itu, jangan heran bila anak-anak bermain lompat-lompatan di tempat tidur atau kursi, sementara orang tua akan memarahi karena khawatir benda-benda itu rusak atau kotor.

Proses internalisasi nilai juga sering luput dari perhatian orang tua ketika membelikan mainan untuk anak-anaknya. Orang tua, tanpa mereka sadari, ikut menanamkan konstruksi gender dengan membelikan boneka atau seperangkat mainan peralatan memasak kepada anak perempuannya.

Sebaliknya, terhadap anak laki-laki, dibelikan mobil-mobilan, pistol-pistolan dan yang disebut mainan anak lelaki. Padahal, mainan tidak mengenal jenis kelamin. Tapi, dari situlah bermula anak-anak kita mengidentifikasikan dirinya, diakrabkan dengan peran gender yang terbawa hingga mereka dewasa, berumah tangga, dan memiliki anak.

Aspek-aspek sederhana, termasuk memberikan dos-dos bekas belanjaan pada anak untuk dikembangkan menjadi mainan kreatif, sering kita lalai perhatikan. Kita lupa pada rumus umum bahwa anak bisa menjadikan apa saja sebagai mainan atau tempat mainan.

Pada tataran yang lebih serius, negara-dalam hal ini pemerintah, tidak cukup serius untuk memenuhi kebutuhan anak akan permainan yang edukatif, murah dan terjangkau. Karena itu, gugatan KPAI terhadap berbagai pihak patut didukung agar bermain yang menjadi hak anak tidak berubah menjadi monster yang merenggut nyawa anak.

Seiring berkembangnya zaman, anak-anak kita digiring menuju bentuk permainan in door yang lebih individual dan meninggalkan permainan tradisional yang mengandalkan kolektivitas. Games merupakan contoh permainan yang telah mentransformasikan the mode of children play sebagai bentuk permainan perseorangan di dalam ruang.

Anak-anak kita dikepung budaya permainan jenis ini, mulai dari game watch, ding dong (video games), nintendo, hingga play stasions. Ada banyak kritik dialamatkan terhadap permainan-permainan tersebut karena dianggap mendorong agresivitas, mengurangi daya imajinasi, mengganggu kegiatan belajar, membuat anak egois, dan antisosial.

Selain itu, terdapat sejumlah mainan berbahaya dan tak kalah mematikan lantaran bahan bakunya yang tidak aman bagi anak. Dinas Perindustrian dan Perdagangan DKI Jakarta, pernah mengklaim bahwa banyak mainan anak mengandung racun timbal.

Hasil uji coba laboratorium mereka menyatakan, unsur timbal yang terdapat pada mainan itu sangat tinggi dan telah melewati ambang batas yang diizinkan untuk kesehatan tubuh manusia (90-100 mg/kg). Mengacu pada uji laboratorium tersebut, kandungan kadar timbal pada mainan anak mencapai hingga 300-400 mg/kg.

Dr Riki Tenggara, SPd, menyatakan ada tiga bahaya utama racun timbal pada anak, yakni: 1) Dapat menyebabkan keracunan kronik pada otak dan pembuluh darah/syaraf tubuh. Kandungan timbal yang tinggi dapat menyebabkan terjadinya penurunan perkembangan intelegensia dan rentan terhadap ketidakseimbangan sistem syaraf tubuh;

2) Dapat menyebabkan penyakit pernapasan dan pencernaan akut. Unsur timbal berisiko tinggi merusak kerja sistem metabolisme tubuh (ginjal, hati dan lain-lain) serta menyebabkan infeksi pada sistem pernapasan; dan 3) Dapat menyebabkan melemahnya kerja zat-zat pembangun tulang pada tubuh anak. Hal ini dapat merusak struktur kandungan tulang tubuh anak pada masa pertumbuhannya, sehingga berpotensi menyebabkan kerapuhan tulang (osteophorosis).

Meski mengandung bahan-bahan berbahaya bagi anak-anak, mainan asal China melenggang bebas di pasaran Indonesia. Ketua Asosiasi Penggiat Mainan Edukatif dan Tradisonal Indonesia (APMETI), Dhanang Sasongko (detikFinance, 2/8/2007) mengatakan,

China kini tercatat menguasai 72 persen peredaran mainan di dunia, di mana Indonesia merupakan salah satu importir terbesar dari negara Tirai Bambu tersebut. Pemerintah dinilai kurang memperhatikan industri mainan lokal, yang relatif memperhatikan aspek kesehatan dalam kandungan bahan bakunya.

Anak-anak dari keluarga miskin tampaknya semakin tidak bisa menikmati hak-haknya untuk bermain mengingat di perkotaan lahan-lahan terbuka yang bisa diakses untuk bermain semakin terbatas.

Tempat-tempat permainan kini hanya tersedia di mal-mal dan pusat-pusat perbelanjaan, yang biayanya tentu tidak murah. Apalagi pemerintah daerah juga menarik retribusi terhadap tempat-tempat mainan anak, yang sudah barang tentu bebannya akan dikenakan terhadap anak-anak sebagai konsumen.