METROLISA | Learning Internet Marketing and Marketing Strategy

Oct/10

3

Dilematis Permainan Anak

Sikap orang tua yang kerap memanjakan anak dengan mainan, tanpa memperhatikan aspek keamanan, keselamatan dan kesehatan, bisa menjadi bumerang. Kasus anak-anak yang terancam buta akibat bermain pistol replika merupakan buktinya.

Berdasarkan catatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sudah 20 korban anak-anak yang mengalami luka, baik ringan maupun berat, gara-gara bermain tembak-tembakan dengan pistol mainan. Di Padang, misalnya, enam anak terpaksa mendapatkan perawatan di RSUPM Jamil karena terluka di bagian matanya. Kejadian serupa juga terjadi di Cengkareng, Jakarta.

Bermain sesungguhnya merupakan dunia anak yang dijamin Konvensi Hak Anak (KHA). Peter Adamson (Jalaluddin Rakhmat, 1991) mengatakan, bermain bukanlah kegiatan yang tidak berarti tapi sangat penting untuk pertumbuhan anak dan dapat membantu mengembangkan mental, sosial dan keterampilan fisik, termasuk berbicara dan berjalan.

Bermain dapat merangsang rasa ingin tahu, kecakapan, serta percaya diri seorang anak. Bermain juga merupakan landasan bagi anak untuk mampu melakukan pekerjaan sekolahnya, mempelajari beberapa keterampilan yang perlu untuk kehidupannya di kemudian hari.

Saat anak-anak berkumpul, bermain, bertukar pengalaman, mengembangkan daya kreasi dan imajinasi, belajar tentang kerja sama, toleransi, tanggung jawab, dan saling dukung antara satu dengan lainnya. Secara alamiah, proses itu akan membentuk semangat berorganisasi dan merefleksikan bakat kepemimpinan yang dimiliki anak-anak.

Sebaliknya, anak-anak yang tidak pernah bermain dengan teman-temannya atau dalam kelompok akan cenderung memperlihatkan hambatan perilaku setelah dewasa. Misalnya, tidak bisa melakukan sosialisasi di tempat pekerjaan, tidak sanggup mengoordinasikan tugas dan sulit meluaskan wawasan .

Dari penjelasan tersebut, tampak bahwa bermain bukanlah perkara sepele. Soalnya kemudian, masih ada orang tua yang over protective melarang anak-anak bermain karena khawatir anaknya hanya akan membuang waktu percuma.

Orang tua lebih memilih menjejali anak-anaknya dengan aneka kursus untuk mengejar prestasi akademik atau merasa lebih aman anaknya menonton TV di rumah daripada bermain dengan kawan-kawannya.

Orang tua juga tidak jarang kurang memahami bahwa anak-anak memiliki kemampuan menjadikan apa saja sebagai arena bermain. Karena itu, jangan heran bila anak-anak bermain lompat-lompatan di tempat tidur atau kursi, sementara orang tua akan memarahi karena khawatir benda-benda itu rusak atau kotor.

Proses internalisasi nilai juga sering luput dari perhatian orang tua ketika membelikan mainan untuk anak-anaknya. Orang tua, tanpa mereka sadari, ikut menanamkan konstruksi gender dengan membelikan boneka atau seperangkat mainan peralatan memasak kepada anak perempuannya.

Sebaliknya, terhadap anak laki-laki, dibelikan mobil-mobilan, pistol-pistolan dan yang disebut mainan anak lelaki. Padahal, mainan tidak mengenal jenis kelamin. Tapi, dari situlah bermula anak-anak kita mengidentifikasikan dirinya, diakrabkan dengan peran gender yang terbawa hingga mereka dewasa, berumah tangga, dan memiliki anak.

Aspek-aspek sederhana, termasuk memberikan dos-dos bekas belanjaan pada anak untuk dikembangkan menjadi mainan kreatif, sering kita lalai perhatikan. Kita lupa pada rumus umum bahwa anak bisa menjadikan apa saja sebagai mainan atau tempat mainan.

Pada tataran yang lebih serius, negara-dalam hal ini pemerintah, tidak cukup serius untuk memenuhi kebutuhan anak akan permainan yang edukatif, murah dan terjangkau. Karena itu, gugatan KPAI terhadap berbagai pihak patut didukung agar bermain yang menjadi hak anak tidak berubah menjadi monster yang merenggut nyawa anak.

Seiring berkembangnya zaman, anak-anak kita digiring menuju bentuk permainan in door yang lebih individual dan meninggalkan permainan tradisional yang mengandalkan kolektivitas. Games merupakan contoh permainan yang telah mentransformasikan the mode of children play sebagai bentuk permainan perseorangan di dalam ruang.

Anak-anak kita dikepung budaya permainan jenis ini, mulai dari game watch, ding dong (video games), nintendo, hingga play stasions. Ada banyak kritik dialamatkan terhadap permainan-permainan tersebut karena dianggap mendorong agresivitas, mengurangi daya imajinasi, mengganggu kegiatan belajar, membuat anak egois, dan antisosial.

Selain itu, terdapat sejumlah mainan berbahaya dan tak kalah mematikan lantaran bahan bakunya yang tidak aman bagi anak. Dinas Perindustrian dan Perdagangan DKI Jakarta, pernah mengklaim bahwa banyak mainan anak mengandung racun timbal.

Hasil uji coba laboratorium mereka menyatakan, unsur timbal yang terdapat pada mainan itu sangat tinggi dan telah melewati ambang batas yang diizinkan untuk kesehatan tubuh manusia (90-100 mg/kg). Mengacu pada uji laboratorium tersebut, kandungan kadar timbal pada mainan anak mencapai hingga 300-400 mg/kg.

Dr Riki Tenggara, SPd, menyatakan ada tiga bahaya utama racun timbal pada anak, yakni: 1) Dapat menyebabkan keracunan kronik pada otak dan pembuluh darah/syaraf tubuh. Kandungan timbal yang tinggi dapat menyebabkan terjadinya penurunan perkembangan intelegensia dan rentan terhadap ketidakseimbangan sistem syaraf tubuh;

2) Dapat menyebabkan penyakit pernapasan dan pencernaan akut. Unsur timbal berisiko tinggi merusak kerja sistem metabolisme tubuh (ginjal, hati dan lain-lain) serta menyebabkan infeksi pada sistem pernapasan; dan 3) Dapat menyebabkan melemahnya kerja zat-zat pembangun tulang pada tubuh anak. Hal ini dapat merusak struktur kandungan tulang tubuh anak pada masa pertumbuhannya, sehingga berpotensi menyebabkan kerapuhan tulang (osteophorosis).

Meski mengandung bahan-bahan berbahaya bagi anak-anak, mainan asal China melenggang bebas di pasaran Indonesia. Ketua Asosiasi Penggiat Mainan Edukatif dan Tradisonal Indonesia (APMETI), Dhanang Sasongko (detikFinance, 2/8/2007) mengatakan,

China kini tercatat menguasai 72 persen peredaran mainan di dunia, di mana Indonesia merupakan salah satu importir terbesar dari negara Tirai Bambu tersebut. Pemerintah dinilai kurang memperhatikan industri mainan lokal, yang relatif memperhatikan aspek kesehatan dalam kandungan bahan bakunya.

Anak-anak dari keluarga miskin tampaknya semakin tidak bisa menikmati hak-haknya untuk bermain mengingat di perkotaan lahan-lahan terbuka yang bisa diakses untuk bermain semakin terbatas.

Tempat-tempat permainan kini hanya tersedia di mal-mal dan pusat-pusat perbelanjaan, yang biayanya tentu tidak murah. Apalagi pemerintah daerah juga menarik retribusi terhadap tempat-tempat mainan anak, yang sudah barang tentu bebannya akan dikenakan terhadap anak-anak sebagai konsumen.

Related Posts

    No related posts found

· ·

31 comments

  • batavusqu · October 3, 2010 at 4:26 pm

    Salam Takzim
    Betul kang mangkanya saya terus berhati-hati terhadap anak anak saya, sekarang banyak yang lagi gandrung FB_an, itu juga menurut saya kurang baik lho bang khususnya anak anak
    Salam Takzim Batavusqu

  • alamendah · October 3, 2010 at 5:31 pm

    (Maaf) izin mengamankan KEDUAX dulu. Boleh, kan?!
    Mesti hati-hati dalam memilih permainan untuk anak-anak, ki.

  • pendarbintang · October 3, 2010 at 7:44 pm

    Yang terpenting lagi harus diawasi..

  • Mega · October 4, 2010 at 10:27 am

    jarang liat anak-anak maen mobil-mobilan dari kulit jeruk

  • baju import · October 4, 2010 at 12:59 pm

    harus diawasi

  • ipops · October 4, 2010 at 2:30 pm

    waduuuh… mengerikan sekali efek mainan cina itu…. gimana membedakannya? di mall juga susah ngebedainya…

  • Ipin Suripin · October 4, 2010 at 4:38 pm

    Bermain memang salah satu kegiatan yg sangat penting untuk pertumbuhan anak dan dapat membantu mengembangkan mental, sosial dan keterampilan fisik, termasuk berbicara dan berjalan.TApi harus ada batas dan juga perlu pengawasan dari orang tua masing2…..

  • Barcode Printer · October 5, 2010 at 2:31 am

    kebanyakan sekarang produsen mikir komersialnya aja, duit melulu

  • PUTRI MALU · October 5, 2010 at 9:15 am

    Dulu saya jarang dibelikan mainan.

  • PUTRI MALU · October 5, 2010 at 9:16 am

    betul sekali, tanpa memperhatikan keselamatan usernya.

  • PUTRI MALU · October 5, 2010 at 9:17 am

    Saya masih sering lihat, soalnya tempat saya di pedesaan…

  • Barcode Printer · October 5, 2010 at 10:02 am

    belum lama ini banyak anak jadi buta gara-gara tembakan mainan, prihatin

  • Barcode Printer · October 5, 2010 at 10:03 am

    aman terkendali dibawah Kang alamendah

  • Barcode Printer · October 5, 2010 at 10:04 am

    fungsi pengawasan dari ortu emang penting sekali

  • Barcode Printer · October 5, 2010 at 10:05 am

    sering terbuat dari bahan yang berbahaya

  • Hybrid car · October 5, 2010 at 10:22 am

    Bermain memang sudah menjadi kebutuhan wajib bagi anak untuk berkembang secara fisik maupun psikologisnya. Mainan alami yang tersedia di sekitar kita mungkin akan lebih baik agi mereka.

  • Alwi · October 5, 2010 at 1:05 pm

    Wah kudu hati2 dan gak boleh kasih mainan sembarangan (yg membahayakan), jadi ingat dulu (instrospeksi) waktu kecil mainannya perang2an dg panah beneran, untung gak ada yg celaka dan mainan petasan serta bahan peledak (kalau yg ini sempat memakan korban) temen jarinya putus kena ledakan dan rumah sendiri hampir kebakaran (duuuhhh).

    Ampuni kenakalanku ya Allah, mohon maaf Pak/Bu anakmu ini dulu bandel banget

  • Mega · October 5, 2010 at 2:35 pm

    sama … saya juga di desa :)

  • bundadontworry · October 5, 2010 at 6:44 pm

    ingat zaman dulu, waktu masih kecil, aku kalau bikin pistol2an dr pelepah batang pisang, jadi jelas2 tdk membahayakn sama sekali.
    sekarang krn kemajuan zaman, malah gak selalu bikin aman anak2 dr mainan nya sendiri, ironis juga ya Bang.
    Semoga saja bisa dicari cara yg pas, bagaimana agar mainan utk anak2 ini, aman utk dimainkan ,amin
    salam

  • aming · October 5, 2010 at 8:23 pm

    saya sendiri benar2 selektif kang dalam memilih mainan untuk putri…sebab khawatir juga atas bahan2 yang membahayakan kesehatannya….

  • jagadkomputer · October 6, 2010 at 12:40 am

    iya betul banget..mainan asal china kadang2 bahan bakunya sangat berbahaya terutama yg berasal dari plastik. apalagi untuk anak dibawah umur yang cenderung memasukkan segala sesuatu ke mulut..

  • Vulkanis · October 6, 2010 at 11:19 am

    Sayang anak perlu juga diteliti yah

  • Vulkanis · October 6, 2010 at 11:21 am

    anak saya belu maen FB om ,,masih cilik

  • Vulkanis · October 6, 2010 at 11:30 am

    Wan komenya nyasar nih Bang

  • Vulkanis · October 6, 2010 at 11:38 am

    Tergantung yang menggunakannya atuh Om

  • Vulkanis · October 6, 2010 at 11:40 am

    Suruh maen petak umpet aja

  • Vulkanis · October 6, 2010 at 11:41 am

    Aws! Awas!

  • attayaya mobil keluarga ideal · October 7, 2010 at 9:15 am

    nah pistol-pistolan itu yang sangat berbahaya
    termasuk masalah kembang api
    sekalian masalah mainan dari china yang menggunakan cat yang sangat berbahaya

  • GeraldineFrost · June 17, 2011 at 9:21 am

    According to my exploration, billions of persons all over the world receive the home loans at well known banks. Therefore, there is a good possibility to get a bank loan in all countries.

  • home loans · December 7, 2011 at 4:20 pm

    According to my analysis, billions of persons all over the world get the business loans at good creditors. So, there is great possibilities to find a secured loan in every country.

  • led light · January 28, 2012 at 12:53 pm

    My brother wanted to buy one game known as Counter Strike Source in his 13th birthday.He wanted to buy the original of game from Steam.The game is very expensive , and he wants to purchase it from that site by creating his own account first and then buying the game.

<<

>>

Switch to our mobile site