Cermin

Hari ini laki-laki itu datang lebih awal seperti biasanya. Dengan pakaian lengkap dengan atribut kebesaran yang hampir memenuhi seluruh tubuhnya.

Laki-laki muda itu berhenti di pintu halaman kantornya dan berdiri tersenyum di depan sebuah gambar seseorang setengah badan. Laki-laki muda itu mengulas senyum tipis di depan gambar itu. Semakin lama ia menatap gambar itu, semakin lebar senyumnya.

Gambar yang dipandangnya memang dalam pose tersenyum. Laki-laki dan gambar itu keduanya tersenyum. Gambar itu adalah gambar laki-laki itu sendiri. Gambar itu dipajang untuk keperluan sosialiasi. Laki-laki itu tersenyum kepada gambarnya sendiri . Yang sebenarnya sedang terjadi ialah laki-laki itu tersenyum sendirian di situ, demi sosialisasi.

Bertahun-tahun laki-laki itu memakai baju dinas dengan aneka macam simbol dan tanda di dada dan bahu baju dinasnya. Sebuah topi jabatan melengkapi kebesarannya. Setiap pagi, dibantu istrinya, ia mengenakan baju dinas dan semua simbol dan tanda tersebut. Seperti kurang yakin akan bantuan istrinya, ia kembali berdiri di depan cermin di dalam kamarnya.

Ia melenggok ke kiri dan kanan, mematut-matut dirinya di depan cermin. Jika bayangan dalam cermin itu sudah memastikan kepatutannya sebagai yang “ter…,” barulah ia meninggalkan cermin itu, keluar dari kamarnya.

Di luar, di ruang tamu, ajudan, staf, dan beberapa orang lainnya segera memberi hormat kepadanya dengan sikap sempurna, sebelum ia duduk sebentar untuk mendengar berbagai hal dari orang-orang yang sedari tadi menunggunya.

Sebenarnya yang sesungguhnya terjadi ialah laki-laki itu melapor lebih dulu kepada bayangannya di cermin sebelum bertemu dan menerima laporan dari berbagai orang. Ajudan dan orang-orang itu tidak tahu bahwa laki-laki itu selalu melapor dan menyembah bayangannya di cermin, sebelum orang-orang melapor dan seperti menyembahnya.

Bertahun-tahun laki-laki itu dengan mobil dinasnya berjalan di aspal yang bagus. Sesekali ia melewati jalan yang aspalnya tidak bagus. Sesekali juga ia memperhatikan becak berseliweran mengganggu arus jalan.

Sesekali ia memperhatikan pedagang asongan dari balik kaca riben mobilnya. Sesekali ia melihat rumah-rumah penduduk miskin. Sesekali ia melihat pasar yang kumuh. Sesekali ia mencium aroma busuk udara permukiman penduduk.

Ya, setelah berbilang tahun, laku-laki itu setiap pagi berdiri, mengenakan baju kebesaran dan mematut-matut dirinya di depan cermin. Sesekali ia berucap “laksanakan!”, atau “he, anu, ….” seraya tangan dan telunjukkan diarahkan ke arah tertentu, seperti memberi perintah, di depan cermin.

Tapi, sesudah itu, baju kebesaran itu dilepas satu-satu. Kini, badannya hanya dibungkus sepotong celana kolor dan sehelai kaos singlet. Istrinya mengambil sisa-sisa kebesaran itu, melipatnya, dan menyimpannya kembali ke dalam lemari. Mungkin besok pagi lakon itu akan diulangi oleh suaminya.

Laki-laki itu keluar dari kamarnya dengan pakaian seadanya tersebut. Tidak perlu ia sungkan dengan pakaian itu, karena ini rumahnya sendiri, bukan rumah jabatan yang dulu. Juga, sudah tak ada ajudan yang selalu berkata “siap” atau orang-orang yang seperti mau mencium sepatunya kalau menghadap. Sebenarnya yang sedang terjadi adalah laki-laki itu hanya dengan dirinya sendiri dan bayang-bayang kebesarannya di dalam cermin.

Waktu berjalan terus. Laki-laki itu terbaring, terbujur kaku, dan diratapi oleh orang-orang di sekitarnya. Tak mungkin lagi ia mengulum senyum setipis apapun sekarang, walau dipajang di depannya seribu gambar sosialisasi dirinya yang gagah. Tak mungkin lagi ia mematut-matut dan melenggokkan badannya ke kiri dan kanan, walau diletakkan seribu cermin di hadapannya sekarang.

Tak mungkin lagi ia menunjuk tegas atau meneken surat-surat penting seperti dulu. Banyak bekas datang melayatnya. Bekas ajudan, bekas staf, bekas anak buah, bekas orang-orang yang memerlukannya, dan banyak bekas lainnya.

Sore bergerimis itu, laki-laki itu dimasukkan ke liang lahatnya tanpa gambar sosialisasi, tanpa cermin, dan tanpa ajudan. Laki-laki itu pergi sendiri tanpa teman untuk melapor kepada Yang Maha Besar tentang gambar sosialisasinya, tentang baju dinas dan simbol-simbol kebesarannya, tentang cerminnya, tentang ajudannya, tentang istrinya yang setia, tentang orang-orang yang mau menyembahnya, dan banyak lagi “tentang” lainnya, seperti tukang becak, pedagang kaki lima, orang yang kurang makan, pemuda yang bingung akan masa depannya, dan lain-lain, yang tak sekalipun pernah menginjak lantai rumah dinas dan pribadinya. Laki-laki itu adalah cermin.

16 thoughts on “Cermin

  1. Artikel yg menarik… ini peringatan ya buat kita semua. Makasih mas.. aku terenyuh banget.. awalnya niatnya cuman cr backlink aja dengan BW tp setelah membaca dengan seksama.. aduh.. aku kok lupa ya selama ini.. Bahwa hidup itu bukan cuman hr ini..
    Makasih mas sekali lagi atas tulisan yg bermanfaat ini. mudah2an.. teman2 yg lain juga bisa mengambil manfaatnya & yg nulis bisa di beri amal yang setimpal. Amin

Comments are closed.