Persoalan ini sesungguhnya menjelaskan persoalan ummul kitab dan kitabul mubin dalam perspektif pensucian diri. Orang tua adalah ‘Ummul Kitab’ dan anak-anak yang dilahirkan adalah ‘Kitab al Mubiin’-nya. Seorang anak adalah penjelas, pemapar, dan mendetilkan sifat-sifat orang tuanya.
Banyak sekali orang tua yang menutupi sifat-sifat buruknya. Ditutup rapat-rapat dari pandangan manusia lainnya. Orang lain akan melihat kita sebagai seorang yang santun, seorang yang dermawan, ‘alim, menahan diri, sabar, dan banyak yang lainnya. Orang lain tidak dapat melihat sifat-sifat buruk yang disimpannya rapat-rapat. Orang lain tidak melihat bahwa dibalik kedermawanan kita tersimpan riya’ kita, orang lain tidak dapat melihat dibalik ke-aliman kita tersembunyi kemalasan kita, orang lain tidak bisa menembus kebencian dan kebengisan kita yang tertutup oleh kesan sabar yang ditampilkan. Namun Allah yang Maha Melihat, menembus segala sesuatu. Menembus suatu yang halus dan yang disimpan rapat-rapat.
Allah menginginkan kita semua sadar akan keburukan-keburukan kita, memohon ampun atasnya dan memperbaikinya. Karenanya Dia berkehendak ‘menampilkan’ segala hal yang kita tutup rapat, agar disadari oleh kita, bahwa hal tersebut harus dibenahi.
Cara Dia menampilkan itu di mata kita adalah dengan berbagai macam cara. Masalah-malasah kehidupan yang diizinkan-Nya hadir adalah salah satu caranya. Termasuk lahirnya anak-anak kita yang membawa sifat-sifat kita, baik sifat yang nyata terlihat ataupun tertutup rapat. Seakan si anak ini memberitakan: “Wahai ayahku, wahai ibuku, seperti inilah engkau adanya.”
Kehadiran seorang anak, adalah cermin buat orang tuanya. Seorang ayah dan ibu dapat dengan sangat jelas bercermin tentang dirinya dari anak-anaknya. Kemalasannya akan terpantul secara langsung. Demikian pula kesombongannya, keteledorannya, kebengisan, serta segala sifat-sifat baiknya.
Seorang yang menghargai Ayat-ayat Allah, akan menghargai segala bentuk tingkah laku sang anak. Yang menyenangkan, membahagiakan hati, dan bahkan yang menyakitkan dan menjengkelkan. Semuanya dipergunakan sebagai cermin, dalam menyusun langkah taubat, menjemput rahmat Allah, agar hati dibersihkan-Nya.
Related Posts
- No related posts found

alamendah · October 11, 2010 at 5:54 pm
(Maaf) izin mengamankan PERTAMAX dulu. Boleh, kan?!
alamendah · October 11, 2010 at 5:55 pm
(Maaf) izin mengamankan KEDUAX dulu. Boleh, kan?!
Semoga kita dapat bercemin dari anak-anak kita
Vulkanis · October 11, 2010 at 6:33 pm
Wah..jadi bingung nih bang,maklum dah jadi bapak nih
Vulkanis · October 11, 2010 at 6:44 pm
Ikuutan juga keduaaaxxzz :kimpoi:
Vulkanis · October 11, 2010 at 6:47 pm
Ikutan ketigaa Bang :Yb :malus
Mega · October 12, 2010 at 8:51 pm
@vulkanis
lha saya belum emak nih
aming · October 13, 2010 at 2:34 pm
“Kehadiran seorang anak, adalah cermin buat orang tuanya. Seorang ayah dan ibu dapat dengan sangat jelas bercermin tentang dirinya dari anak-anaknya..”
rasanya gimanaaa gitu pak ngebacanya….
tob banged dah…
aming · October 13, 2010 at 2:40 pm
cermin orang tua yah bang,
dalem juga sih….
Alwi · October 13, 2010 at 5:00 pm
Peribahasa lain, buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya …..
Kullu mauludin yuladu ‘alal fithroh fainnama abawahu …… dst …… setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, fithrah maka sesungguhnya kedua orang tuanyalah yang akan menentukan sentuhan pertamanya, pengaruhnya dsb dalam menentukan karakter, pola, mental, kepribadian dan akhlak si anak apakah mau baik atau buruk, jika contohnya baik insya Allah output juga baik, jika contohnya jelek maka outputnya juga jelek, apalagi masa anak2 yg sedang serba ingin tahu , apa yg dilihat dan didengar akan ditiru, maka menjadi keharusan bagi orang tua untuk selalu “Ibda’ binafsik” mulai dari diri sendiri. Jika menginginkan anak yg sholih/shlihah maka dirinya harus sholih/sholihah terlebih dahulu. Jika menginginkan anak yg baik serta berakhlak, maka orang tua harus terlebih dahulu menjadi orang baik dan berakhlak, bisa menjadi figur tauladan, uswah hasanah. Sudah diajarkan yg baik2 pun kadang2 masih terpengaruh dg lingkungan, teman, media terutama TV, apalagi bila caranya dengan kekerasan, kasar, maka anakpun akan cenderung keras, kasar dll.
Haqqul walad ‘ala walidihi, ayyuhsina ismahu wa adabahu, ….. dst. hak anak atau kewajiban orang tua untuk memberikan nama yg baik dan mengajarkan adab tatakrama sopan santun dst, kewajiban orang tua/hak anak untuk mendapatkan sumber makanan yg halal dan baik (wa alla yarzukohu illa thoyyiban) dan kewajiban orang tua yg merupakan hak anak untuk mendapatkan ajaran2 ilmu agama dan ilmu pengetahuan dan kesehatan yg baik (wa ayyu’allimahulkitabah wassabahah warrimayah) ……
Ohhhh … indahnya ajaran Agama ….. mudah2an kita bisa istiqomah dan anak2 kita keturunan kita bisa menjadi Qurrota a’yun dan bisa menjadi Imam bagi orang2 yang bertaqwa.amin
bundadontworry · October 14, 2010 at 5:32 pm
kita bisa bercermin dr anak2 kita ya Bang.
jadi kalau anaknya suka ngambek atau marah, mungkin kita dulu juga gitu.
tulisan yg bagus Bang utk evaluasi diri .
salam
Hybrid cars · October 26, 2010 at 2:50 pm
Setuju Bunda, seringkali kita protes dengan kelakuan anak kita, tapi kita sendiri tidak mau introspeksi
Barcode Printer · October 31, 2010 at 7:05 am
aman dah abis diamankan kang alamendah