Makassar, 3 Mei 1998
Malam kian larut. Jam dinding di sudut kamarku baru saja berdentang dua belas kali. Malam begitu hening, diiringi suara Richard Marx yang mengalunkan Right here waiting dari tape recorder. Mendengar lagu ini aku jadi ingat Tina. Dia paling suka menyanyikan lagu itu, apalagi jika saya iringi dengan gitar.
Ah,… Tina ! lagi ngapain anak itu sekarang. Sejak keluarganya pindah ke Manado dua minggu lalu, aku tak pernah ketemu dia lagi. Kangen rasanya.
Hei,… ada apa denganku? kenapa tiba-tiba aku merindukan dia sekarang. Padahal selama ini aku selalu meyakinkan hatiku kalau dia cuman seorang Adik bagiku. karena memang umur kami terpaut jauh.
Aku kenal Dia setahun lalu. Waktu itu aku jadi Panitia Lomba Cerdas cermat Kimia Tingkat SMA yang di adakan di kampusku. Dan Tina adalah seorang peserta yang mewakili sekolahnya. Sejak saat itu kami jadi akrab dan sepakat untuk menjalin persahabatan.
Tiba-tiba telepon berdering nyaring di pojok meja belajarku. dengan refleks tanganku mencet tombol stop, suara Richard Marx pun menghilang. Dan beberapa detik kemudian aku terperanjat gembira mendengar suara nyaring dari seberang.
“Hallo, kakakku sayang…. belum tidur khan?”
“Ada apa nih? koq tumben telepon tengah malam, mau jadi kuntilanak yah?”
“Boleh saja.Tapi korbannya adalah kakak..” terdengar suara tawa yang khas ditelingaku.
“Kakak tau nggak, lusa tanggal berapa?”
“Tanggal lima….lima Mei… ya ampun, itukan ulang tahun kamu Tin..?”
“Tidak usah teriak, ini tengah malam kak. Begini saja, besok saya ke Makassar dengan pesawat pertama, jemput saya di Bandara jam sepuluh yah Kak !”
Klik !, belum sempat aku bicara, gagang telepon sudah ditutup dari seberang.
Ah,… benar-benar sebuah surprise, Tina akan datang besok pas disaat aku merindukan kehadirannya.
Makassar, 5 Mei 1998
Tak ada pesta, tak ada lagu “Happy Birthday” apalagi acara tiup lilin. Namun Tina kelihatan sangat gembira disaat ulang tahunnya yang ke-18 ini.
Sehabis makan malam, kami ke Pantai Losari, gerimis kecil menyambut kami begitu turun dari mobil. namun itu tak menahan langkah kami untuk menikmati udara malam di tepi Pantai Losari.
“Kita berteduh saja. Aku khawatir kamu nanti terserang flu”. Tapi nampaknya ajakan saya ini ditolak , dan Tina langsung menjawab. “Insya Allah ! aku akan tetap sehat,” jawabnya mantap. padahal rambut dan baju kami sudah mulai basah.
Aku mengepit lenganku erat, mencoba menghalau dingin yang mulai menembus. Di langit bulan bersembunyi malu-malu. Tapi lampu-lampu Makassar Golden Hotel yang berada tepat di pinggir Pantai Losari tetap berbinar terang. Bias sinarnya menyapu permukaan laut karena letaknya memang menjorok ke pantai.
“Dingin”, aku mulai merengkuh bahunya…. rasa hangat dan nyaman seakan mengalir dalam tubuh kami seketika.
“Aku suka kamu dalam keadaan basah seperti ini. Persis seperti tikus kecebur got”.
“Kakak jahat Ah…., masak aku disamakan dengan tikus…..” timpal Tina sambil memukul bahu saya… yang disusul dengan gerai tawanya yang khas. Beberapa saat kemudian Tina terdiam, lalu menoleh ke saya.
“Kak…… aku sayang Kakak”
Aku berusaha menoleh, mencoba menatap wajahnya yang cantik…. Dalam cahaya remang, sempat kulihat rona merah dadu menjalari pipinya.
Aku sedikit terkejut, merasa terkesima. Ada kilat bintang yang sempat kutangkap pada matanya.
“Aku tahu,.. Kakak cuman menganggap aku sebagai Adik. Tapi apakah perasaan cinta dalam hati saya ini harus terpendam selamanya? Tidak kak,… Tidak,… meskipun hal itu seakan berlebihan dan menyalahi tata krama karena seorang perempuan yang mengungkapkan isi hatinya pada seorang pria”.
Ya Tuhan !, kutatap wajah Tina…. Dia tersenyum tulus. Kubalas genggaman tangannya…”Aku juga sayang kamu koq Tin..” Seketika wajah Tina berseri dan langsung menghambur ke pelukan saya.
“Sudah Tin…. Malu di lihat orang tuh…”
“Bagaimana kalau malam ini kita nonton?” ajak aku.
“Film apa?”
“Titanic !, Kamu suka?”
“Aku tidak suka endingnya. terlalu menyedihkan. dan aku tidak mau mengalami nasib seperti itu, kehilangan orang yang saya cintai untuk selama-lamanya. Oh ya,… kamu jadi tidak, pulang besok?”
“Ya, tidak lama koq. Kakak tahu? aku akan ikut UMPTN disini. Aku pikir akan lebih baik jika aku kuliah disini…. bersama kakak”
“Eh,…. kebetulan aku masih punya sisa tabungan. Bagaimana kalau aku membelikanmu tiket Makassar-Manado?, itung-itung kado ultah”
“Hadiah yang terlalu mahal Kak, simpan saja dulu…. lagi pula aku sudah punya tiketnya koq kak…. tapi tiket bis. Saya ingin menikmati perjalanan Makassar-Manado melalui jalanan Trans Sulawesi yang baru dirintis”
“Lantas kado apa yang kamu minta?”
“Aku hanya meminta sebuah Iringan Do’a dari Kakak…..”
Manado, 9 Mei 1998
Aku tidak menyangka, tanggal 5 Mei 1998 merupakan pertemuan kami yang terakhir. Bahkan sejak malam itu, aku belum mempunyai firasat apa-apa.
Dan kemarin aku mendapat interlokal dari orang tua Tina bahwa Tina telah berpulang ke Rahmatullah, akibat bis yang ditumpanginya mengalami kecelakaan.
Tuhan…… secepat itu kau renggut dia.
Kebersamaan kami begitu singkat
Masih banyak cerita yang harus kami rampungkan
Tin,…. sirna segala apa yang kita impikan. Menjelang Ultahku ke 23, berakhir pula episode kisah yang telah kita rangkai.
Dengan telunjuk kuguratkan nama kita di atas onggokan tanah yang masih basah di depanku. Bibir keluhku bergetar, tanpa suara, tanpa air mata karena semua telah tak ada.
Tin,….apa yang pernah kutakutkan telah terjadi. Ketahuilah aku ikhlas melepasmu pergi. Tapi tidak untuk melepas cinta ataupun kenangan. Sesuatu yang sulit untuk dilupakan dan sakit untuk dikenang.
Ah, rupanya perjalanan panjang yang akan kulalui bersama Tina harus ditutup sampai disini. Kini aku mencoba berjalan seorang diri menapaki hari yang entah kapan akan berakhir.
Aku hanya bisa berdoa untukmu,
Meski kita tak bisa bersatu dan bersua lagi,
Berharap kau senantiasa bahagia di sisi-Nya,
Aku berterima kasih kepada Allah SWT…… Aku dapat mengenal dirimu dan mengenangnya selalu di hati ini.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kisah ini saya tulis berdasarkan kisah nyata sahabat saya dengan seizin Dia untuk di ikutkan dalam kontes blog Berbagi Kisah Sejati yang diselenggarakan oleh Blog Belajar dan Berukhuwah dan di sponsori oleh http://denaihati.com.